Rabu, 07 November 2018

Wanita Karir dari Sudut Pandang Islam : Argumen Ust. Asep Theddy


Wanita Karir, Sebagai Aktualisasi Feminisme, dari Sudut Pandang Islam : Argumen Ust. Asep Theddy


Narasumber   : Ust. Asep Thedy Setiawan
Pewawancara : Muhamad Bayu Tirta




Dewasa ini kita semakin sering melihat pergerakan wanita ditiap sendi dan peranan yang wajarnya dikerjakan seorang laki-laki. Memang, dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, sudah banyak mengakui soal kehadiran wanita itu sendiri. Lengkap dengan haknya.

Faktanya, di Indonesia itu sendiri kaum feminis sudah banyak bergeliat dan turut aktif dalam kegiatan dan aktifitas yang normalnya disandang kaum adam. Buktinya, dari segi kehadiran wanita di partai politik, UU No. 2 Tahun 2008 memuat kebijakan yang mengharuskan partai politik menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30% dalam pendirian maupun dalam kepengurusan di tingkat pusat. Hal ini menjadi bukti bahwa memang kehadiran kaum perempuan diindonesia sebagai realisasi cita dan harapan feminisme itu sudah dianggap.

Dalam Argumennya, Ust. Asep yang akrab disapa Abi, lebih memilih untuk memandang problematika itu dengan hukum boleh dengan syarat. Hal menarik, dimana istri Abi juga sebenarnya sebagai pelaku wanita karir. Dalam Argumennya, Abi menekankan dari sudut pandang sejarah dan kemaslahatan bagi umat jika wanita turut bergerak, apalagi dalam hal dakwah. Namun, kendati Kang Ate, sapaan akrab lainnya, menyebutkan sepakat terhadap gerakan feminisme, tetap ada catatan bagi dirinya selaku suami yang istrinya berkarir, dan juga para kaum wanita karir yang belum menikah. dimana hal ini diyakini berasal dari sudut pandang islam selaku agama yang dianutnya.

Terkadang, efek dari status wanita karir dari istrinya juga menimbulkan permasalahan baru. Ketika suatu pekerjaan menuntut sebuah komitmen, disana muncul sebuah pilihan antara memilih keluarga, atau karir. Kang Ate, dengan penuturannya memaparkan bahwa disana justru peranan seorang suami yang mengizinkan, seharusnya paham dan mengerti tentang hal tersebut sudah termasuk dalam resikonya. Baginya, berbagi peran dengan istri di rumah bukanlah sebuah masalah, justru disana lelaki harus mengambil peran istri sebagai komitmen rumah tangga.


Dari narasumber lain, ada yang mengatakan bahwa wanita karir sebagai bentuk realisasi feminisme, ada yang membolehkan, tidak membolehkan, ada juga yang boleh dengan syarat. Kalau menurut Abi sendiri bagaimana?
Mau apapun, pasti ketiga hal itu pasti ada. Ada yang memperbolehkan, tidak, dan membolehkan dengan syarat. Tergantung konteksnya. Dalam salah satu surat nabawiyah, abi pernah membaca, ada seorang perempuan yang mendatangi rasul untuk minta ikut dalam perang. Namun rasul menolaknya, dan bilang bahwa jihad adalah khusus untuk laki-laki. Lalu perempuan itu mengatakan bukankah saat peperangan membutuhkan tenaga yang menyuplai makanan dan merawat yang terluka saat perang. Maka Rasul memperbolehkan dari segi itu, jika untuk ikut berperang dilapangan Rasul tidak memperbolehkan, namun untuk bidang lain dari segi menyuplai makanan, rasul perbolehkan. Mengenai Feminisme, persamaan hak dan kewajiban sebagai manusia, yang terkadang salah kaprah. Katakanlah andai seorang wanita itu ingin bekerja, ada syarat yang harus diperhatikan. Apalagi kalau sudah memiliki suami, yang paling utama ya izin dari suami, andai pekerjaan dijalankan tanpa izin suami, maka itu tidak akan mejadi berkah. Jadi, ya boleh asal ada persyaratannya.

Kenapa Abi membolehkan seorang wanita berkarir dengan syarat?
Karena ya andai seorang wanita itu dikurung diam saja dirumah, sedangkan dalam satu sisi wanita itu memiliki ilmu namun tidak tersampaikan jadinya karena terhalang, itu akan (jadi) lebih banyak mudorotnya. Kalau berkaca dari kisah kehidupan Rasul, banyak hal-hal yang diketahui oleh para sahabat mengenai rutinitas dan kebiasaan Rasulullah itu dari ucapan Aisyah Radyallahuanhuma, seperti bagaimana Sikap Rasul kepada keluarganya, lalu Aisyah menjawab sebaik-baiknya engkau adalah yang baik terhadap keluarganya, sahabat tahu Rasul tidak pernah marah, dari siapa? Dari Aisyah. Andai dalam kasus itu  Aisyah menutup diri dan tidak memberitahu karena merasa ia istri Rasul, maka hal seperti itu tidak akan tersampaikan. Akhirnya ada suatu amalan yang terputus.

(Dokumetasi Pribadi)

Kalau menurut Abi, hukumnya boleh bersyarat. Maka sebenarnya apa saja yang menjadi persyaratan bagi wanita berkarir?
Syarat yang pertama ya tadi, izin dari suami. Selanjutnya, hak dan kewajiban dia sebagai seorang ibu, tidak boleh hilang. Andai kata anaknya diserahkan kepada pembantu, ini yang salah kaprah, karena pasti ada satu kasih sayang yang hilang. Ketiga, jangan sampai saat kerja itu tabaruj, ya (artinya) kalau berangkat kerja rapih, dan ketika pulang suaminya capek dianya ikutan capek. Lihat cara Aisyah R.A menyambut suaminya, Rasul. Ketika Rasul pulang, Aisyah menyambutnya dengan senyuman terbaik, lalu menggantikan baju Rasulullah, mengelap tubuhnya dengan air hangat, dan memberikan baju terbaik, lalu disiapkan makanan terbaik, dan setelahnya mengambil cambuk dan bilang “Ya Rasulullah, andai ada sikapku yang kurang baik, maka cambuklah aku.” Dari sini kita melihat gitu, bagaimana seorang muslimah yang solehah menyambut seorang suaminya. Intinya, keutamannya tetap dijaga, tidak dzalim pada suami, tidak dzalim pada tubuh, tidak dzalim pada waktu dan pada keluarga.
Andai dalam bekerja, ada yang harus dipilih antara pekerjaan atau keluarga dulu, dan istri mendahulukan pekerjaannya dulu karena satu dan lain hal. Bagaimana kita selaku laki-laki atau suami menanggapi hal tersebut?
Dalam kondisi seperti itu, bagaimana kita bisa menggantikan posisi istri. Dalam artian begini, ketika istri memang terpaksa harus mendahulukan hal itu, maka kita harus bisa setidaknya menggantikan posisinya lebih dahulu, dalam kondisi tertentu. Karena kan orang tua yang baik itu, ketika yang satu marah, maka yang satu lagi tidak boleh ikutan marah, tapi harus jadi yang mengambil peran merangkul. Andai dua-duanya marah, maka anak akan bingung harus ke siapa dia cerita. Intinya saling melengkapi. Lalu, kalau ada seperti itu, maka komunikasikan. Banyak hal rumah tangga itu pecah karena komunikasi yang kurang baik, maka ya kuncinya komunikasikan hal tersebut, agar bisa saling mengerti.
Banyak kasus, istri itu memiliki gaji lebih tinggi daripada suami. Bagaimana sebenarnya islam itu memandang kondisi tersebut?
Dalam suatu keluarga, ada yang Allah titipkan rezekinya itu bisa lewat usahanya suami yang udah ikhtiar sana-sini, ada yang melaui istri, ada juga yang dititipkan melalui anak. Tidak boleh berpandangan semua yang dipunya itu hasil jerit payah sendiri. harus yakin, itu caranya Allah menitipkan rezekinya kepada suatu keularga. Kalau konteksnya sudah berkeluarga, ya harus belajar berbagi. Sudah menikah, ya menyatukan dua manusia dan dua rezeki.
Diluar sana banyak perdebatan soal pemimpin wanita, sebenarnya apakah wanita itu boleh memimpin atau tidak?
Dalam sejarahnya, pernah suatu perang dalam islam itu dipimpin oleh wanita, dipimpin anaknya Rasulullah. Kalau ditanya boleh atau tidak, ya boleh. Tapi ya ada syaratnya, tergantung konteks dan kondisinya. Kalau urusan memimpin ya boleh ketika memang tidak ada lagi laki-laki yang layak untuk memimpin dari segi pemikiran misalnya. Kaya beberapa hal, dakwah itu harus dimasukkan melalui wanita, misalnya soal pornografi menyampaikan soal aurat mungkin jika disampaikan oleh laki-laki ya kurang kena, tapi jika disampaikan oleh wanita ya akan lebih kena karena mereka yang jadi objeknya biasanya. Ya intinya kembali ke yang tadi, boleh tapi ada syaratnya.

Senin, 05 November 2018

KENAPA HARUS ILMU KOMUNIKASI UPI?

KENAPA HARUS ILMU KOMUNIKASI UPI?

Sebuah pandangan dari seorang pelaku, mahasiswa...


Ilmu Komunikasi kini hadir di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). UPI kini jelas sudah ikut selangkah lebih didepan dengan menghadirkan jurusan tersebut. Dengan hadirnya Ilmu Komunikasi, membuat UPI semakin lengkap dan siap menjadi gardu yang lebih maju untuk menonjang keilmuan jurusan sebelumnya dengan daya analisis dari sudut pandang insan komunikasi.

Saya berasumsi, dan semua itu berangkat dari pertanyaan, Kenapa harus Ilmu Komunikasi UPI? sedangkan diluar sana, bukankah sudah banyak universitas yang memiliki jurusan atau departemen atau justru fakultas komunikasi yang lebih terkenal dan lebih berkualitas? ini analisis dan argumen saya, insan awam, mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi UPI.

ILMU KOMUNIKASI UPI SEBAGAI HARAPAN

Ilmu Komunikasi UPI tanpa diskriminasi. Menjadi sebuah harapan bagi siapapun yang datang. Tanpa diskriminasi, dirasa merupakan kalimat tepat untuk menggambarkannya. Tanpa memandang anda siapa, berasal darimana, dengan latar belakang pendidikan apa, SMK ataupun SMA, semua punya kesempatan yang sama. berdasar apa yang saya rasakan, setelah mendapatkan diskriminasi yang sangat menyakitkan dari universitas ternama karena untuk mengenyam kursi pendidikan di Ilmu Komunikasi mereka, saya tidak boleh berasal dari jurusan Bahasa saat SMA-nya melaui jalur SNMPTN, tapi harus berasal dari jursan IPS atau bahkan semakin sempit harus berasal dari IPA, atau mungkin sang universitas lupa, bahwa bahasa adalah sebuah kekuatan komunikasi juga?


Namun ini intinya, tanpa diskriminasi, Ilmu Komunikasi UPI benar-benar membuka diri, pada siapa saja yang hendak mengabdikan diri untuk menjadi insan komunikasi. Saya memilihnya, bukan karena satu-satunya, namun karena mereka memberi kesempatan pada setiap orang, dan memang disanalah adanya harapan. Tanpa perlu embel-embel jurusan IPA IPS atau Bahasa, Ilmu Komunikasi siap menampung semua minat dan kemampuan anda untuk menjadi kian terasah dan matang. Syaratya tak muluk-muluk, karena memang sadar bahwa sebuah kehebatan bisa datang dari mana saja, dari siapapun, dan dari latar belakang apapun.

ILMU KOMUNIKASI UPI SEBAGAI SOLUSI


Kalian sadar atau tidak kalau bagaimanapun juga kajian ilmu komunikasi itu diperlukan dalam setiap bidang dan sendi kehidupan? dari hal rumit seperti pembahasan lobyying dan pertukaran nilai seseorang hingga memunculkan makna radikalisme? atau hal sederhana seperti efek media tarhadap prilaku manusia? atau bahkan hal sepele karena pertengkaran yang disebabkan oleh salah persepsi terhadap sebuah komunikasi? semua itu, kajian Ilmu Komunikasi.

Ilmu Komunikasi UPI diyakini hadir sebagai sebuah solusi. Tak jarang hasil penulisan ilmiah oleh para pengabdi dijurusan lain selain ilmu komunikasi, menghadirkan inti permaslahannya terletak pada komunikasi yang kurang baik, lalu memunculkan solusinya dengan cara berkomunikasi dengan baik. Ibarat mengkambing hitamkan Komunikasi sebagai penyebab perpecahan dan problematika yang ada, namun solusi yang dibutuhkanpun dari bidang komunikasi itu sendiri. 

Kehadiran ilmu komunikasi upi menyebabkan sudut pandang keilmuan kian lengkap. berangkat dari realita yang ada, sebgaimana dikatakan oleh Paul Watzlawick, Janet Beavlin, dan Don Jackson "WE CANNOT NOT COMMUNICATE"  jadi, siapa yang bisa hidup tanpa komunikasi? itu alsan kenapa kamu perlu mempelajarinya.


DAYA KUAT, JURUSAN NON-PENDIDIKAN, DITENGA LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Sejak dibebaskannya UPI dari kukungan "Pasti Jadi Guru", maka sejak itulah pembahasan di UPI tak lagi melulu soal pendidikan. Komunikasi lebih dari itu, menyentuh semua bidang, tak terkecuali pendidikan itu sendiri. dalam praktiknya, komunikasi tak sembarangan, jurusan ini menjadi primadona ditengah sibuknya warga UPI membahas pendidikan, sedangkan Komunikasi punya suatu titik yang melihat suatu problem dari sudut pandang berbeda. tak aneh makanya jika banyak tulisan ilmiah menjadikan Komunikasi sebagai panasea, seperti yang disebut sebelumnya. 

Bahkan, walaupun tak konsen menjadi "guru" atau tenaga kepedidikan, Ilmu Komunikasi UPI tak jarang membedah kasus dan problematika Komunikasi Pendidikan. itu sebagai sebuah bukti dan komitmen, bahwa Komunikasi siap hadir disetiap bidang dan sendi kehidupan.

MUDA, LUGAS, BERKUALITAS!


Sebuah jargon yang selalu mengisi ruang-ruang Ilmu Komunikasi UPI. Setiap gemaan IKOM (Ilmu Komunikasi) dikumandangkan, pasti jawaban itu akan menggelegar. Muda, Lugas, Berkualitas. Apa makna sebenarnya?

Menurut pembaca sekalian, mengapa bung karno begitu menggebu-gebu dan yakin bahwa dengan sepuluh pemuda bisa menggoncangkan dunia? Penyebabnya adalah, karena pemuda selain punya jiwa muda, tapi juga pemikiran dan inovasi yang jelas berbeda, yang bisa membawa terhadap kemajuan peradaban. Muda, bukan berarti usia, tapi akal dan jiwanya. Muda, berarti inovasi itu bisa datang dari akalnya, dan semangatnya besar berangkat dari jiwanya.

Lantas lugas? 
Biasanya pemaknaan Lugas sering disamaratakan dengan tegas, atau ungkapan yang paten atau pasti dan tidak berbelit-belit. Kurang lebih memang begitu, pemaknaan Lugas mengahrapkan mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI menjadi pribadi yang mantap dalam berasumsi dan kuat dalam berargumentasi. lebih dari sekedar asumsi dan argumentasi, tapi juga menjadi konsep diri, karena komunikasi bukan sekedar omongan dan bualan belaka, namun juga tentang realita. 

Lalu semua itu, memberangkatkan mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI menjadi insan komunikasi yang berkualitas. Bukan hanya seruan, tapi bukankah setiap ucapan adalah doa? Maka ini juga selain Jargon Penyemangat, juga menjadi doa, dimana harapannya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI memiliki Jiwa dan akal yang muda, berjiwa lugas, dan memiliki output yang berkualitas.